Aku lupa,, aku luka,,

Wah judul postingannya jadi inget lagunya KOIL, band underground asal kota Bandung (lagunya enak coba deh dengar).

Lagi belajar bikin cerita misteri nih (apanya misteri? ahaha).

Dari cerita ini ada “point message” yang ingin saya sampaikan

So kalian tebak sendiri kira-kira apa?

Cerita ini hanya karangan saya belaka, ahaha.

Enjoy!

***

Saya adalah tentara prajurit yang bertugas menjaga perbatasan wilayah dua negara yang sedang berkonflik.

Saya dilatih untuk berperang serta diajarkan bagaimana caranya bertahan hidup di segala kondisi

Membunuh adalah pekerjaan yang sewaktu-waktu harus saya lakukan untuk mempertahankan diri dan kedaulatan negara

Maka dari itu persenjataan beserta alat-alat pertahanan diri harus selalu siap, seperti : senapan M-16, helm pelindung kepala, kacamata, granat asap dan api, pistol semi automatis glock dipaha kanan, pisau belati, amunisi cadangan, dan perbekalan-perbekalan lainnya.

Sebenarnya saya tidak suka berperang!

Saya benci membunuh!

Karena jauh dalam lubuk hati, saya mencintai perdamaian.

Pada suatu waktu tiba-tiba sejumlah tentara musuh mencoba menerobos masuk wilayah kedaulatan negara saya

Sembari memberikan ancaman berupa tembakan senjata

Terjadilah baku tembak antara kami

Saya berlindung dibalik karung pasir dan sesekali mengarahkan tembakan pada musuh.

Lalu saya berlari kearah depan

Tanpa saya duga sebelumnya berdiri tentara musuh dihadapan saya dengan mengarahkan ujung senapannya

Aaahhh sialnya!

Saya kehabisan amunisi..

Saya telat untuk mengangkat pistol glock untuk ditembakan padanya.

Dooorrrr!!!

Saya tertembak dengan peluru tepat menembus dada kanan, disertai darah merah bercucuran membasahi baju seragam

Terlihat samar sekali saat itu untuk melihat wajahnya

Hanya kuingat tertulis sebuah nama di seragamnya : JUSTIN BALDONI.

Hingga saya terjatuh dan tak sadarkan diri,,

Beberapa hari kemudian mata saya terbuka, serasa tidak percaya bahwa saya masih hidup

Ternyata saya pingsan selama 3 hari

Saya disambut hangat penuh tawa dikelilingi sahabat sesama prajurit, serta komandan saya ‘Kapten Lawrence’ seraya mengucap rasa syukurnya, karena tak satupun prajurit  yang meninggal saat baku tembak itu

Hanya meninggalkan luka-luka saja yang perlu diobati

Tapi tidak sampai disitu bahwa saya masih harus tetap bertugas dan melanjutkan hidup saya disana hingga waktu yang belum ditentukan

Akhirnya berangsur-angsur saya mulai pulih kembali

Dada saya masih terbalut perban yang menutupi luka bekas tembakan saat itu.

Meski sesekali nyut-nyutan dan masih terasa perihnya

Saya lanjutkan tugas seperti biasa untuk berpatroli di wilayah perbatasan.

Jam di tangan saya menunjukan waktu pukul 6 pagi.

It breakfast time!

Saya rehat sejenak sembari menyeruput secangkir kopi hitam tidak terlalu manis (secara saya penikmat kopi).

Seorang tentara prajurit penjaga wilayah negara sebelah, yang notabene merupakan musuh kami datang menghampiri dengan muka tersenyum tanpa mengeluarkan gerak-gerik mencurigakan dan mengancam.

Kebetulan dia pun sedang melakukan patroli sama seperti saya.

Sepertinya dia sangat kelelahan

Kusapa dia dan kuajaknya sarapan pagi bersama.

Kusuguhinya secangkir kopi hitam dan sepotong roti keju

Kami saling mengobrol dan bertukar pikiran

Ternyata dia sudah berkeluarga, memiliki satu orang istri dan dua orang anak

Jauh dalam hatinya sama seperti apa yang saya rasakan bahwa diapun sebetulnya membenci perang

Bukan atas dasar keinginannya membunuh, melukai sesama manusia apalagi jika manusia itu memiliki keluarga yang selalu menantikannya untuk bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat.

Ah saya cukup terharu mendengar ceritanya

Bagaimana dia sangat merindukan istri dan anak-anaknya.

Setelah hampir 1 tahun lamanya tidak bertemu.

Tiba-tiba  tersadar bahwa dia adalah prajurit musuh yang menembak dada saya.

Saat dia membuka jaketnya tertulis nama : JUSTIN BALDONI.

Dan tanpa disadari juga sudah 3 jam lamanya kami saling mengobrol, bercanda, tertawa bersama hingga lupa bahwa negara kami saling konflik

Jika saya ingin membalasnya seharusnya saya balas menembaknya juga

Entah kenapa saya tidak mampu melakukannya

Keramahannya, kebaikannya menghapus rasa dendam dihati saya

Akhirnya kami pun berpisah dan berpamitan dengan wajah penuh keceriaan untuk melanjutkan tugas kami masing-masing.

Ohh my god!

TERNYATA SAYA LUPA,, SAYA LUKA,,

***

Saya tulis dalam hati :

Aku salah terima rupa indahnya

Dunia euforia warna impian

Hawa indah yang kuyakini

Aku mencintaimu,,,

***

Bandung, 30 Juli 2010

8 pemikiran pada “Aku lupa,, aku luka,,

  1. duh, ternyata begitu mudahnya memaafkan orang yang pernah menyakiti , ketika kita bisa ikut berempati pada keadaannya.
    hikmah dibalik tulisan ini sangat dalam.
    memaafkan, malah membuat diri kita bahagia.
    Salam

  2. secret message at the end😀 yap bener memaafkan bukan untuk kebaikan orang lain saja tapi untuk kedamaian hati kita sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s