Mengomentari Teori Mars and Venusnya Dr. John Gray Ph.d

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan teori Mars and Venus yang dipopulerkan oleh John Gray, mengenai hubungan antara dua kubu yang dianggapnya berbeda yaitu pria dan wanita

Karena John Gray sendiri menempatkan ‘harapan diatas kenyataan’, sederhananya beliau menempatkan ‘keadaan yang seharusnya’ dari teorinya itu, sehingga dengan demikian akan terpenuhi apa yang menjadi kebutuhan serta harapan antara pria dan wanita, baik secara emosional maupun lahiriah

Hanya saja terkadang dan tidak terfikirkan adalah bahwa ‘harapan tak selalu sama dan tak seindah dengan kenyataan’, sehingga menuntut manusia untuk menerima ketidaksempurnaan dan keadaan-keadaan yang tidak pada tempatnya itu

Catatan motivasi selalu menawarkan keindahan-keindahan semu sebatas euforia saja, tapi  kenyataan selalu berbicara sebaliknya, coba tanya diri kalian masing-masing?

Saya mengambil contoh kedua orang tua saya sendiri.

Apakah papa dan mama saya adalah pasangan yang cocok?

Tidak perlu saya jelaskan lebih detail apa latar belakangnya karena itu privasi keluarga, saya jawab secara sederhana saja dan jawabannya adalah : sama sekali tidak cocok!

Tapi bagaimana mereka mampu mempertahankan usia pernikahan yang hampir 30 tahun lamanya?

Karena saya lebih dekat dengan mama, maka saya yang paling tahu tentang mama

Bagaimana perjuangan, kesabaran, tetes air mata, serta doa yang selalu mama saya panjatkan demi kebaikan dan keutuhan keluarga

Dia wanita yang luar biasa bagi saya!

Tapi John Gray sendiri berpendapat, yang redaksi sederhananya saya jabarkan seperti ini :

“udah tau engga cocok, kok masih aja dipertahankan! Udah mending putus aja!”

Lalu seperti ini :

“klo cari pasangan itu bukan berdasarkan ‘rasa suka atau ketertarikan’ aja, tapi tuh lawan jenis pantas engga nerima cinta kita? jadi kan bisa ditingkatkan hubungannya, yang awalnya temen jadi sepasang kekasih deh”

Yah padahal yang kita tahu bahwa ‘manusia itu tidak ada yang sempurna’, pernahkah John Gray berfikir kearah sana?

Jika manusia sepakat dan mengamalkan seluruh ajaran dari teori John Gray, alangkah indahnya dunia sehingga Pengadilan Agama diseluruh dunia tidak usah sibuk mengurusi masalah perceraian.

Apakah John Gray pernah berfikir bagaimana ‘cara’ menghadapi ‘kenyataan’ yang ternyata berada  diluar dari keinginan kita sebagai manusia?

Jika saya bertanya pada John Gray, ‘mungkin’ jawaban beliau adalah :

“udah mending putus aja, terus cari yang lain, klo ada pilihan yang lebih baik kenapa engga diambil aja?”

Enak banget ngomongnya sih! : (

Bercermin kembali kepada mama saya dan teringat kata-kata Pak Mario Teguh :

“kata siapa kesabaran itu tidak dibayar? Tuhan akan membayarnya dengan kemuliaan dan ditinggikannya derajat kita”

Terbukti bahwa mama saya secara finansial penghasilannya (rejeki) ‘lebih besar’ dibandingkan papa saya. Karirnya bagus terbukti dengan penghargaan-penghargaan yang diberikan kepadanya, dimulai dari 2 buah penghargaan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), hingga penghargaan yang diberikan oleh Presiden RI pada masa pemerintahannya Ibu Megawati Soekarno Putri. Dan mama saya mampu membiayai sekolah adik-adik dan saya sendiri hingga kuliah tingkat magister (S2). Mama saya mampu menutupi semua biaya dan anggaran kebutuhan keluarga dengan keringatnya sendiri. Maka saya sangat berdosa sekali jika menyakiti hatinya.

Dan dari situ saya percaya dengan ‘keadilan Tuhan’.

Klo papa saya? Jangan tanya deh.

Dari situlah saya bercermin dan belajar bagaimana cara menerima dan menghadapi situasi kondisi yang tidak sempurna, serta keadaan yang tidak sesuai pada tempatnya.

Tapi syukur ‘alhamdulillah’ saya panjatkan, karena dengan begitu saya bisa mengerti dan meyakini bahwa segala sesuatu itu, termasuk hidup kita sebagai manusia berada dijalan yang sudah Tuhan gariskan, kita tidak bisa mengelak apalagi menentang semua kehendaknya”

So no problem and there’s no wrong with The John Gray’s Theory!

To know the truth, we must know the false

Life is not ideal choise, but do best be from

***

Bandung, 27 September 2010

19 pemikiran pada “Mengomentari Teori Mars and Venusnya Dr. John Gray Ph.d

  1. saya jd ingat sebuah kisah:
    konon ada seorang wanita yg sgt cantik & kaya raya bersuamikan laki2 yg sudah jelek, tua, miskin, pemarah lagi. orang2 pun bertanya,”mengapa mau & betah dg suami seperti itu?”. apa jawabnya?
    ternyata dia memberikan jawaban yg mencengangkan : “aku telah bersyukur mendapatkan anugrah dari Allah berupa kecantikan, harta dan kehormatan. sudah seharusnya aku melengkapinya dengan SEBUAH KESABARAN bersuamikan orang seperti itu. bukankah esensi iman ituadalah syukur dan sabar?. Subhanallah

  2. Saya belum pernah baca satupun buku John Gray, tapi sering menemukan cuplikan-cuplikan teorinya di majalah wanita langganan saya.
    Pola pikir john Gray sangat simpel. Dia percaya 100 % pada teori bahwa semua wanita pasti begini dan semua pria harusnya begitu. Sehingga dia mencoba buat mencocokkan wanita dan pria menurut pendapatnya dalam sebuah teori🙂
    Dalam kehidupan nyata, tentu aja tidak ada manusia yang persis seperti itu. Kalau kita mencari jodoh yang sempurna, duuuh, bisa nggak bakalan berani berumah tangga deh…
    Salut buat kesetiaan papa dan mama Rully.
    Dengan perbedaan yang mereka miliki, justru sikap saling menghargai itu yang menjadi perekat sebuah rumah tangga. Mama yang hebat, belum tentu cocok dengan papa yang hebat, Rul…😉

  3. Saya terlalu malas membaca buku itu, selain itu, menurut saya hubungan cinta itu ga bisa pake teori… tapi pake hati..
    ga masuk akal kalau suatu buku dijadikan acuan dalam hubungan cinta…

    lihatlah Ibu Anda, sedemikian beliau bisa mempertahankan pernikahan, apakah berkat buku tersebut? tidak… itu berkat hati beliau yang besar.. right?

    anyway, ada sedikit review bebas ttg si pengarang buku tersebut pas lagi googling, mungkin Rully tertarik membacanya :
    http://hitmansystem.com/tentang-romansa/Antara-Hitman-System-dan-Mars-Venus.html
    🙂

  4. ya semuanya berkat kesabaran, kebesaran hati dan mensyukuri semua yang terjadi, serta percaya bahwa Tuhan pun Maha Adil.
    saya banyak belajar dari situ.

  5. kadang memang teori hanya menawarkan kemudahan2 yang sifatnya sementara , blm tentu juga cocok utk diterapkan dlm kehidupan nyata, yg sesungguhnya bisa saja lebih kompleks dr pada yg dibukukan.

    tentang pasangan hidup, mungkin semuanya terpulang pd yang melakoni masing2, krn pasti ada pertimbangan2 yg lebih sakral utk tetap menjalaninya .
    Kehidupan rumah tangga gak selama nya mulus dan lancar bak jalan tol,
    disana sini pasti banyak jurang dan ngarai, yang berarti kita harus terus menerus belajar dan belajar utk menapak agar tdk ikut tecebur ke jurang atau ngarai itu.
    Kecuali memang sudah tdk ingin belajar lagi, atau terlalu lelah dan tdk cocok lagi dgn pembelajaran, maka bubarlah.

    sebenarnya ketika kita menikah dgn niat yg lurus krn ibadah padaNYA semata, maka insyaallah pernikahan bagaimanapun berat cobaan dan ujiannya , akan bisa terlewati dengan saling pengertian, saling menghormati, saling setia, saling percaya dan tentunya empati yg besar .

    Maaf Rully, kok si bunda ini jadi komen panjang banget,😳 ngalahin panjangnya postingan ..
    sekali lagi, Maaf ya Rully, ini hanya pendapat bunda saja, dan bisa saja salah🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s